alasan obat Ranitidine di tarik BPOM



Obat Ranitidine  atau ranitidin adalah obat untuk mengurangi jumlah asam lambung dalam perut. Fungsinya untuk mengatasi dan mencegah rasa panas perut (heartburn), maag, dan sakit perut yang disebabkan oleh tukak lambung. Ranitidin juga digunakan untuk mengobati dan mencegah berbagai penyakit perut dan kerongkongan yang disebabkan oleh terlalu banyak asam lambung, misalnya erosive esophagitis dan refluks asam lambung (gastroesophageal reflux disease, GERD).

baca juga cara menjaga kesehatan rambut

Ranitidine termasuk ke dalam golongan obat H2 histamine blocker, obat ini juga tersedia tanpa resep. Digunakan untuk mencegah dan mengobati heartburn serta gejala lain yang diakibatkan terlalu banyak asam dalam perut (gangguan pencernaan asam). Jika Anda menggunakan obat ini tanpa resep, perhatikan instruksi pada kemasan secara saksama sehingga Anda tahu kapan harus menghubungi dokter atau apoteker.

Namun baru – baru ini obat Ranitidin sendiri di tarik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan penarikan sejumlah produk obat yang mengandung Ranitidin dari peredaran. BPOM merilis perintah itu pada Jumat, 4 Oktober 2019 lalu. Berdasarkan siaran resmi BPOM, perintah penarikan sejumlah produk obat Ranitidin itu berawal dari peringatan US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA).

baca juga artikel lainnya cara mencegah timbulnya jerawat

Pada 13 September 2019, lembaga pengawas obat di AS dan Eropa itu mengeluarkan peringatan tentang temuan cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) dalam jumlah relatif kecil pada sampel produk obat yang mengandung bahan aktif Ranitidin. NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami. Sementara menurut hasil studi global nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 nanogram per hari. Jika dikonsumsi melampaui ambang batas itu secara terus-menerus dalam waktu yang lama NDMA akan bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

sempat menerbitkan informasi awal bagi Tenaga Profesional Kesehatan pada 17 September 2019 terkait keamanan produk obat Ranitidin yang tercemar NDMA BPOM juga melakukan pengujian terhadap beberapa sampel produk obat Ranitidin. Hasil uji tersebut menyimpulkan sejumlah produk obat Ranitidin mengandung cemaran NDMA melebihi ambang batas normal. Dengan dasar hasil pengujian itu, BPOM memerintahkan beberapa perusahaan farmasi menyetop produksi dan distribusi obat Ranitidin yang mengandung NDMA melampaui ambang batas. BPOM pun meminta produk-produk obat tersebut ditarik dari peredaran.

BPOM menyatakan pengujian untuk menyelidiki kandungan NDMA akan dilakukan terhadap semua produk obat Ranitidin yang beredar di Indonesia. Akhir 2018 lalu BPOM juga pernah melarang peredaran obat anti-hipertensi golongan ARB, yaitu Irbesartan, Losartan dan Valsartan, sebab mengandung NDMA dan N-Nitrosodiethylamine (NDEA). Merek obat ARB yang dilarang beredar adalah Acetensa Tablet Salut Selaput 50 mg (PT Pratapa Nirmala) dan Insaar tablet 50 mg dengan pendaftar PT Interbat.

baca juga artikel lainnya cara mencegah jerawat

Berdasar keterangan Badan Kesehatan Dunia (WHO), memang ada bukti konklusif bahwa NDMA merupakan zat karsinogen dengan dampak kuat pada hewan. Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) pun mengklasifikasikan NDMA sabagai zat yang terindikasi dapat memicu kanker pada manusia. Sejumlah studi kasus mendukung asumsi bahwa konsumsi NDMA berhubungan dengan kanker lambung dan kolorektal. Itulah kenapa obat Ranitidine di tarik oleh BPOM.

Belum ada Komentar untuk "alasan obat Ranitidine di tarik BPOM"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel